Cara Melakukan Pencegahan Penyakit Frambusia

Kegiatan pencegahan penyakit Frambusia pada daerah bebas Frambusia meliputi promosi kesehatan, pengendalian faktor risiko, dan Surveilans Frambusia.

Seperti halnya kegiatan penanggulangan Frambusia pada daerah endemis, kegiatan pencegahan penyakit Frambusia pada daerah bebas dapat diselenggarakan secara bersinergi dengan lintas program melalui pendekatan keluarga (active case finding) dan mengedepankan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Cara Pencegahan Penyakit Frambusia Lewat Promosi Kesehatan

Kuman penyebab Frambusia hanya hidup dalam tubuh manusia dan menular antar manusia. Pada dasarnya, penularan Frambusia pada suatu populasi dapat terhenti apabila setiap anggota penduduk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama menjaga kebersihan perorangan seperti mandi menggunakan air dan sabun.

Promosi untuk menghentikan penularan penyakit Frambusia adalah dengan melakukan kegiatan sosialisasi penyakit Frambusia dan kampanye penggunaan air, sabun, dan memelihara kesehatan lingkungan. Melalui kegiatan promosi tersebut, pengetahuan masyarakat tentang penularan Frambusia serta perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat dapat ditingkatkan.

Kegiatan promosi dapat dilaksanakan melalui strategi advokasi, pemberdayaan masyarakat, dan kemitraan. Advokasi dilakukan untuk mendapatkan komitmen kuat dari pimpinan pusat, daerah serta pemangku kepentingan terkait terutama dalam menetapkan Eradikasi Frambusia sebagai prioritas program dengan dukungan anggaran yang memadai serta jaminan kesinambungan program sampai penularan Frambusia dapat dihentikan secara permanen di seluruh wilayah Indonesia.

Tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat serta petugas pelayanan kesehatan lainnya, terutama di puskesmas dan rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia, harus kembali diingatkan kemungkinan adanya penularan Frambusia di wilayah kerjanya dengan cara meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi Frambusia.

Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan melibatkan kader dan masyarakat tidak hanya dalam membantu menemukan kasus suspek Frambusia namun juga dalam kegiatan promosi dengan ikut serta memberikan penyuluhan tentang kesehatan perorangan.

Advertisement

Kemitraan dilakukan dengan organisasi-organisasi profesi kesehatan dan sektor-sektor lain yang terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana serta diseminasi informasi perilaku hidup bersih dan sehat seperti bidang pekerjaan umum, perumahan rakyat, pendidikan dan kebudayaan, komunikasi dan informasi, dan bidang lainnya yang akan mendorong tercapainya pelayanan yang komprehensif.

Pencegahan Penyakit Frambusia Lewat Pengendalian Faktor Risiko

Pengendalian faktor risiko dilakukan melalui pencegahan penularan melalui peningkatan kemauan untuk berobat bagi kontak kasus, penemuan kasus dan kontak secara dini, dan/atau penggunaan air bersih dan sabun.Penemuan kasus secara dini dapat memutuskan mata rantai penularan Frambusia di suatu daerah.

Semua kasus koreng yang bukan diakibatkan oleh cedera atau trauma, dapat diduga sebagai suspek Frambusia sampai dapat dikonfirmasi dengan melakukan pengujian serologi. Penemuan kasus baik secara aktif maupun pasif tidak hanya dilakukan pada daerah endemis saja, tetapi juga dilaksanakan pada daerah non endemis.

Penatalaksanaan kasus dan pemberian obat yang tepat sangat menunjang dalam pemutusan mata rantai penularan Frambusia. Selain kasus, pemberian obat pada kontak juga dilakukan. Pemberian obat pada kasus dan kontak harus didukung dengan ketersediaan obat dan manajemen pengelolaan azitromisin tablet yang benar.

Sosialisasi pada awal pemberian obat pada kasus dan kontak dibutuhkan agar dapat meningkatkan pengetahuan pentingnya pemberian obat dan meningkatkan kemauan berobat.

Kampanye penggunaan air bersih dan sabun dilakukan sebagai upaya untuk membudayakan higiene perorangan. Hygiene perorangan yang baik dapat memutus rantai penularan Frambusia.

Pencegahan Penyakit Frambusia Lewat Surveilans Frambusia

Kegiatan Surveilans Frambusia pada Daerah Bebas terutama diarahkan pada kegiatan pengamatan yang dilaksanakan secara sistematis dan terus-menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien untuk melaksanakan program Eradikasi penyakit Frambusia. (source: Lampiran permenkes No 8 tahun 2017)