Referensi Penyakit Membran Hialin

Referensi yang dapat digunakan untuk makalah penyakit Membran Hialin pengelolaan respiratory distress syndrome atau penyakit membran hialin adalah

1.    Martin RJ, Crowley MS. Respiratory problem. Dalam : Fanaroff AA, Fanaroff JM. Klaus&Fanaroff’s Care of the highrisk neonate. Edisi 6. Philadelphia :Elsevier-Saunders. 2013:279-89.
2.    Lefrak L, Lund CH. Nursing practice in the Neonatal Intensive Care Unit. Dalam : Fanaroff AA, Fanaroff JM. Klaus&Fanaroff’s Care of the highrisk neonate. Edisi 6. Philadelphia :Elsevier-Saunders. 2013: 258-77.
3.    Kosim MS.Gangguan napas pada bayi baru lahir. Dalam : Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. Edisi 1, cetakan keempat. Jakarta :Badan Penerbit IDAI. 2014: 126-46
4.    Indrasanto E,Dharmasetiawani N,Rohsiswatmo R, Kaban RK. Paket pelatihan pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK). Asuhan neonatal esensial. Jakarta : JNPK-KR,IDAI dan POGI. 2008.
5.    Wibowo T, Laksmi NDP, Roespandi H, Handy F. Buku saku pelayanan kesehatan neonatal esensial. Pedoman teknis kesehatan dasar. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010
6.    Roespandi H, Nurhamzah W, Sidik NA,Weber M. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten dan kota. Jakarta : WHO-Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009: 50-64.

Fastologi Penyakit Membran Hialin
Perkembangan paru normal : Paru berasal dari pengembangan “embryonic foregut” dimulai dengan perkembangan bronchi utama pada usia 3 minggu kehamilan. Ada 4 stadium perkembangan paru yang dikenal :
1.    Pseudoglandular (5-17 minggu) dimana terjadi perkembangan percabangan bronchus dan tubulus asiner.
2.    Kanalikuler ( 16 -26 minggu ) dimana terjadi proliferasi kapiler dan penipisan mesenkhim. Diferensiasi pneumosit alveolar tipe II sekitar 20 minggu.
3.    Sakuler ( 24 – 38 minggu ) dimana terjadi perkembangan dan ekspansi rongga udara Awal pembentukan septum alveolar.
4.    Alveolar ( 36 minggu – >2 tahun setelah lahir ) dimana ada Penipisan septum alveolar dan pembentukan kapiler paru.

Surfaktan dibentuk pada pneumosit alveolar tipe II dan disekresi ke dalam rongga udara kecil sekitar usia kehamilan 22 minggu. Komponen utama surfaktan ini adalah fosfolipid, sebagian besar terdiri dari dipalmitylphosphatidylcholine (DPPC ). Surfaktan disekresi oleh eksositosis dari lamellar bodies pneumosit alveolar tipe II dan myelin tubuler. Pembentukan myelin tubuler tergantung pada ion kalsium dan protein surfaktan SP-A dan SP-B. Surfaktan lapisan tunggal berasal dari myelin tubuler dan sebagian besar terdiri dari DPPC. Fungsinya adalah untuk mengurangi tegangan permukaan dan menstabilkan saluran napas kecil selama ekspirasi yang memungkinkan stabilisasi dan pemeliharaan sisa volume paru. Terjadi proses “re-uptake dan recycling” secara aktif dari fosfolipid surfaktan ( baik endogenous maupun dari pemberian surfaktan ) oleh pneumosit tipe II.

Ada 3 jenis protein utama lain yang dibentuk didalam pneumosit tipe II dan disekresi bersamaan dengan komponen fosfolipid surfaktan SP-A mempunyai fungsi imunoregulator bersama dengan SP-B diperlukan untuk pembentukan mielin tubuler. SP-A bersama dengan SP-B dan SP-C mempertahankan myelin tubuler dan surfaktan lapis tunggal terhadap pengikisan akibat kontaminasi dengan protein plasma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *