Kegawatan Pernafasan Pada Anak

Diperkirakan bahwa 30% kematian pada bayi baru lahir penyebab utamanya adalah kegawatan pernafasan pada anak atau Respiratory Distress syndrome. Kegawatan sistem pernafasan ini sering terjadi pada bayi dengan kelahiran premature dengan masa kelahiran kurang dari minggu yang mencapai 60%. Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi tenaga kesehatan terutama para calon tenaga kesehatan professional.

Peningkatan pengetahuan askep kegawatan pernafasan dan keterampilan tenaga kesehatan sangat penting agar bisa menangani permasalahan kegawatan pernafasan pada anak. Penanganan kegawatan pernafasan ini terkait dengan penderita yang mempunyai resiko menderita RDS. Keterampilan dan pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut dan bisa dipertanggungjawabkan pada pasien dan tim kesehatan lain.

Pengertian Respiratory Distress Syndrome ( RDS ) adalah perkembangan yang immatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai hyaline membran disease ( HMD ).
Bila dikaitkan dengan usia hamil maka jika semakin muda seorang bayi maka resiko RDS makin tinggi. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan yang immatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. Pada bayi laki-laki memiliki RDS 2kali lebih banyak dibandingkan RDS bayi perempuan. Insidens akan makin meningkat pada bayi bila ada faktor –faktor lainnya misalnya: ibu diabetes yang melahirkan bayi kurang dari 38 minggu, hipoksia perinatal, lahir melalui seksio sesaria.

Bayi dengan RDS dimana kemampuan paru untuk mengembang tidak ada dan alveoli terbuka. RDS pada bayi yang belum matur mengakibatkan gagal pernafasan disebabkan immaturnya dinding dada, parenchim paru, dan immaturnya endotellium kapiler sehingga mengakibatkan kolaps paru pada akhir ekspirasi.

Penatalaksanaan Kegawatan pernafasan pada kasus kegawatan pernafasan pada anak dan bayi :
1. Pastikan lingkungan yang optimal. Suhu tubuh harus selalu diusahakan agar tetap dalam batas normal ( 36,50-370C ). Hal ini bisa diperoleh dengan cara meletakkan bayi dalam inkubator. Kelembapan ruangan juga harus adekuat ( 70-80%)
2. Penanganan kegawatan pernafasan dengan pemberian oksigen. Pemberian oksigen dilakukan dengan hati-hati karena berpengaruh kompleks pada bayi yang lahir prematur. Sebagai tindakan pencegahan timbul komplikasi tersebut maka saat pemberian O2 diikuti oleh pemeriksaan analisa gas darah. Rumatan PaO2 antara 50-80mmHg dan PaCO2 antara 40 dan 50 mmHg, dengan rumatan O2 2L.
3. Pemberian cairan dan elektrolit. Sebagai permulaan diberikan glukose 5-10% 60-125 ml/kgBB/hari. Asidosis yang muncul harus segera dikoreksi dengan NaHCO3 secara intravena, dengan rumus pemberian : NaHCO3( mEq ) =Defisit basa X 0.3 X BB bayi.
4. Pemberian antibiotik, untuk mencegah infeksi sekunder. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penissilin yang memiliki dosis 50000-100000 U/kgBB/hari dengan atau tanpa gentamicin3-5/kgBB/hari.
5. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian surfaktan eksogen melalui endotrakheal tube. Obat ini sangat efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *