Diagnosa Keperawatan Hipertensi Terbaru

Diagnosa keperawatan hipertensi – Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. (Aziz Alimul, 2009 : h 92)

Nanda menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu. Keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial. Sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data. Dimana menurut Nanda diartikan sebagai defensial arakteristik definisi karakteristik tersebut dinamakan tanda dan gejala suatu yang dapat diobservasi dan gejala sesuai yang dirasakan oleh klien.

I.Pengertian
Hipertensi merupakan kejadian tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Sedangkan penyakit hipertensi menurut WHO adalah peningkatan tekanan sistolik ≥160 mmHg dan atau tekanan diastolic ≥ 95 mmHg. Hipertensi masuk dalam kategori ringan jika tekanan diastoliknya antara 95 – Diagnosa keperawatan hipertensi 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat jika tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini didasarkan pada adanya anggapan peningkatan tekanan diastolic lebih serius dari peningkatan sistolik.

II.Peyebab Hipertensi
Dari penyebabnya hipertensi bisa dibedakan menjadi 2 golongan yaitu hipertensi primer (essensial) dan hipertensi  sekunder. Hipertensi primer merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya sedangkan hipertensi  sekunder merupakan hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain

Hipertensi primer dialami lebih dari 90 % penderita hipertensi dan 10 % lainnya penyebabnya adalah hipertensi sekunder. Walapun belum diketahui penyebab hipertensi primer tetapi dari data penelitian telah ditemukan beberapa faktor penyebab hipertensi.

Faktor penyebab hipertensi tersebut antara lain factor keturunan, ciri perseorangan dan kebiasaan hidup.

Dari data statistik ternyata seseorang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menbisakan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Ciri perseorangan yang mempengaruhi munculnya hipertensi adalah umur dimana jika umur bertambah maka TD meningkat sedangkan jenis kelamin laki-laki lebih tinggi dari perempuan dan ras kulit hitam lebih  banyak dari kulit putih. Kebiasaan hidup mngkonsumsi garam yang tinggi melebihi dari 30 gr, kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan seperti ephedrine, prednison, epineprin merupakan factor timbulnya hipertensi.

Advertisement

III.Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.

selengkapnya

Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.

Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan bisa mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang bisa memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Untuk pertimbangan gerontology, perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang kemudian menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer.

IV.Tanda dan Gejala Hipertensi
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu tidak ada gejala dan gejala yang lazim.

Tidak ada gejala merupakan keadaan tidak ditemukan gejala yang spesifik yang bisa dikaitkan dengan munculnya peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Akibatnya hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

Gejala yang lazim sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Gejala ini menjadi gejala terlazim pada kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.


V.Pemeriksaan Penunjang Hipertensi

Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, pemeriksaan retina ,pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan jantung, EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri, urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa, pemeriksaan : renogram, pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin dan pemeriksaan foto dada dan CT scan.

VI. Pengkajian
1.    Aktivitas / istirahat :
Gejala: kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton|Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2.    Sirkulasi
Gejala:Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler|Tanda:Kenaikan TD, hipotensi postural, takhikardi, perubahan warna kulit, suhu dingin

selengkapnya

3.    Integritas Ego
Gejala:Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, factor stress multiple|Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang meledak, otot muka tegang, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara
4.    Eliminasi
Gejala: gangguan ginjal saat ini atau yang lalu
5.    Makanan / Cairan
Gejala makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol|Tanda : BB normal atau obesitas, adanya edema
6.    Neurosensori
Gejala: keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala, berdenyut, gangguan penglihatan, episode epistaksis|Tanda:,perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, perubahan retinal optik
7.    Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri abdomen
8.    Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok|Tanda:distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas tambahan, sianosis
9.    Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan|Tanda : episode parestesia unilateral transien, hipotensi psotural
10.    Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala : factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM , penyakit ginjal,Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon

VII.Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip penatalaksaan penyakit hipertensi adalah terapai tanpa obat dan terapai dengan obat.

Terapi tanpa obat dilakukan pada hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi diet, latihan fisik, edukasi psikologi dan pendidikan kesehatan.

Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr, diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh, menurunkan berat badan, menurunkan asupan etanol, berhenti dari kebiasaa merokok dan diet tinggi kalium.

Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah:
a).  Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain
b). Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Denyut nadi maksimal bisa ditentukan dengan rumus 220 – umur
c). Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona       latihan
d). Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu

Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi  teknik biofeedback dan teknik relaksasi. Tehnik biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek   tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. Tehnik relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk bisa belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks

Pendidikan Kesehatan untuk hipertensi memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien bisa mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Terapi dengan Obat memiliki tujuan  tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita bisa bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE bisa digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

Cara Pengobatannya

Pengobatannya meliputi :
a.    Step 1    : Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
b.    Step 2    : Alternatif  yang bisa diberikan
1)    Dosis obat pertama dinaikan
2)    Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
3)    Ditambah obat ke –2 jenis lain, bisa berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
c.    Step 3    : alternatif yang bisa ditempuh
1)    Obat ke-2 diganti
2)    Ditambah obat ke-3 jenis lain
d.    Step 4    : alternatif pemberian obatnya
1)    Ditambah obat ke-3 dan ke-4
2)    Re-evaluasi dan konsultasi

Follow Up Untuk Mempertahankan Terapi

Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut :
a.    Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya
b.    Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya
c.   Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak bisa sembuh, namun bisa dikendalikan untuk bisa menurunkan morbiditas dan mortilitas
e.    Yakinkan penderita bahwa penderita tidak bisa mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya bisa diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter
f.    Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
g.    Sebisa mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita
h.    Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi
i.    Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan jika penderita atau keluarga bisa mengukur tekanan darahnya di rumah
j.    Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari
k.    Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
l.    Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal
m.    Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
n.    Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering
o.    Hubungi segera penderita, jika tidak datang pada waktu yang ditentukan.
Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

VIII.Dianosa Keperawatan Hipertensi

Diagnosa 1

Diagnosa Keperawatan Hipertensi I
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard
Intervensi keperawatan :
a.    Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat
b.    Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
c.    Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
d.    Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler
e.    Catat edema umum
f.    Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
g.    Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
h.    Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
i.    Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher
j.    Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
k.    Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
l.    Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
m.    Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi

Hasil yang diharapkan :
Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD
Mempertahankan TD dalam rentang yang bisa diterima
Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil

Diagnosa 2

Diagnosa Keperwatan Hipertensi II
Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat
Intervensi keperawatan :
a.    Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan
b.    Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan
c.    Batasi aktivitas
d.    Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin
e.    Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan
f.    Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi

Hasil yang diharapkan :
Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman

Diagnosa 3

Diagnosa Keperawatan Hipertensi III
Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi
Tujuan : sirkulasi tubuh tidak terganggu
Intervensi :
a.    Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur
b.    Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia
c.    Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan
d.    Amati adanya hipotensi mendadak
e.    Ukur masukan dan pengeluaran
f.    Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan
g.    Ambulasi sesuai kemampuan; hibdari kelelahan

Hasil yang diharapkan :
Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang bisa diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
Haluaran urin 30 ml/ menit
Tanda-tanda vital stabil

Diagnosa 4

Diagnosa Keperawatan Hipertensi IV
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan perawatan diri
Tujuan ;Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi
a.    Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur
b.    Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress
c.    Diskusikan tentang obat-obatan : nama,  dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping atau efek toksik
d.    Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter
e.    Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah.
f.    Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil
g.    Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat
h.    Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai pesanan
i.    Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein, teh serta alcohol
j.    Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan

Hasil yang diharapkan :
Pasien mengungkapkan pengetahuan dan ketrampilan penatalaksanaan perawatan dini
Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai pesanan

Resource : Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000| Gunawan, Lany.  Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit  Kanisius, 2001| Sobel, Barry J, et all. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi, Jakarta, Penerbit Hipokrates, 1999 | Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003 | Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan,  1995 | Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996 | Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,  2002 | Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995 | Marvyn, Leonard. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta, Penerbit Arcan,  1995 | Tucker, S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998