Asuhan Keperawatan Asma Bronkial Askep Asma Bronkial

Askep asma bronkial : Asma bronkial merupakan penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversibel saat trakheobronkial memberi respon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.

Asma bronkial memiliki ciri adanya peningkatan respon trachea dan bronkhus pada bermacam rangsangan dengan manifestasi timbulnya penyempitan jalan nafas secara luas dan derajatnya bisa berubah karena terjadi secara spontan atau hasil dari pengobatan.

Etiologi askep bronkial

Faktor yang menyebabkan timbulnya serangan asma bronkial adalah genetika. Aslergen, perubahan cuaca, stres dan melakukan kegiatan fisik berat.

askep asma bronkial

Faktor Genetik adalah salah satu faktor yang dapat menimbulkan asma bronkial. Bakat alergi diturunkan dari keluarga terdekat walaupun tidak bisa diketahui dengan pasti penurunan bakat alargi tersebut bagaimana. Hal ini diketahui bahwa seringkali para penderita asma dengan penyakit alergi sering memiliki keluarga dekat penderita penyakit alergi juga. Oleh sebab itu bila penderita terpapar faktor pencetus akan mudah menderita asma bronkial saat dirinya memiliki bakat alergi.

Penyebab lain dari asma bronkial adalah alergen dimana alergen ini terbagi menjadi tiga macam yakni inhalan, ingestan dan kontaktan. Pembagian ini didasarkan dari cara alergen tersebut berinteraksi dengan tubuh. Alergen yang masuk lewat saluran pernapasan disebut inhalan seperti debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan polusi. Sedang alergen yang masuk lewat mulut disebut ingestan seperti makanan atau obat-obat yang dikonsumsi. Untuk alergen yang masuk lewat kontak kulit disebut sebagai kontaktan seperti memakai perhiasan atau jam tangan.

Perubahan cuaca juga di klaim bisa menyebabkan asma bronkial. Yang paling sering mencetuskan terjadinya asma adalah hawa dingin dan cuaca yang lembab. Selain perubahan cuaca, musim juga bisa mencetuskan serangan asma seperti musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin, serbuk bunga, dan debu.

Advertisement

Selain faktor ekternal seperti ulasan di atas, penyebab asma bronkial juga bisa disebabkan dalam diri sendiri seperti stres. Penderita asma dengan kondisi stres atau mengalami gangguan emosi dapat memperburuk kondisi serangan asma. Pada penderita asma yang demikian akan sulit disembuhkan apabila belum bisa mengatasi stres dalam dirinya.

Melakukan aktivitas berat cenderung akan menimbulkan serangan asma pada penderita asma contoh mudahnya adalah berlari dimana kegiatan ini paling cepat memicu serangan asma.

Klasifikasi asma bronkial

Bila dilihat dari penyebabnya, asma bronkial diklasifikasikan dalam tiga tipe yaitu asma ekstinsik (alergik), Intrinsik (non alergik) dan asma gabungan.

ASma ekstrinsik (alergik) ini muncul karena reaksi alergi dikarenakan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti serbuk bunga, bulu binatang debu, obat-obatan (antibiotik dan aspirin), dan spora jamur. Sedangkan asma intrinsik (non alergik) timbul karena reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui. Faktor pencetusnya bisa berupa udara dingin atau bisa juga karena infeksi saluran pernafasan dan emosi. Dengan beriringnya waktu asma bronkial akan menjadi lebih kronis dan bisa menjadi bronkhitis kronis dan emfisema. Pada sebagian orang bisa berkembang menjadi asma gabungan.dimana asma ini memiliki karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

Patofisiologi
Pada asma obstruksi saluran napas adalah kombinasi spasme otot bronkus, sumbat mukus,edema dan inflamasi dinding bronkus.Obstruksi ini akan menjadi hebat saat ekspirasi diakibatkan saluran napas semakin sempit saat fase tersebut. Sehingga pada area adanya obstruksi udara distal tidak dapat di ekspirasi atau terjebak.

Baik saluran nafas besar ataupun kecil bisa mengalami penyempitan saluran. Peneyempitan pada saluran napas besar ditandai dengan munculnya gejala mengi sedangkan bila ditandai batuk dan gejala sesak napas terjadi penyempitan pada saluran napas yang kecil

Terjadinya penyempitan saluran napas pada asma bisa mengakibatkan gangguan ventilasi seperti hipoventilasi, ketidakseimbangan ventilasi perfusi saat distribusi ventilasi tidak seimbang dengan sirkulasi darah pada paru dan gangguan difusi gas di tingkat alveoli. Penderita yang mengalami penyempitan tersebut bisa menderita hipoksemia, hiperkapnia dan asidosis respiratorik pada tahap yang sangat lanjut